TERRA MADRE INDONESIA HAK ATAS PANGAN YANG BAIK, BERSIH, DAN ADIL

by -364 views

citayambersatu.com – Bersamaan dengan perayaan Hari Hak Asasi Manusia Sedunia yang jatuh pada setiap 10 Desember, yang kini akan dirayakan di tengah kondisi pandemik global Covid-19, membuat isu pangan yang merupakan salah satu hak asasi manusia dari setiap orang menjadi lebih relevan dan signifikan untuk mendapatkan perhatian khusus. Pangan, mulai dari aspek tersediaan hingga
kecukupan dan keseimbangan gizi dengan berlandaskan prinsip yang baik, bersih dan adil merupakan kebutuhan dan hak mendasar (basic need and right) yang tidak dapat dikompromikan demi alasan ekonomi dan politik.

Pangan lebih dari sekedar makanan dan kebutuhan manusia. Mulai dari apa yang diklasifikasikan sebagai pangan, bagaimana mempersiapkan dan mengonsumsinya, memiliki muatan kultural yang dalam, seperti yang telah diceritakan oleh para antropolog, sejarawan dan pakar cerita rakyat (folklorist). Pangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem
produksi menyeluruh yang menggambarkan sebuah proses di mana manusia mengambil yang terbaik dan tersedia dari alam dengan berbagai keragaman yang juga unik dan khas, serta melalui pengalaman, kearifan lokal dan pengetahuan para petani, nelayan dengan para pengolahan hasil bumi laki dan perempuan, dapat disajikan dan dijual ke pasar dan menjadi komoditi untuk dikonsumsi berbagai kalangan sosial. Jika pangan dilihat sebagai bagian dari berbagai relasi dan multi dimensi sosial-budaya maka akan membuka pemahaman baru tentang bagaimana pilihan pangan dan konsumsi berdampak pada produksi pangan dan akan membantu menciptakan hubungan yang lebih kuat antara produsen dan konsumen dengan mengedepankan prinsip-prinsip baik, bersih dan berkeadilan.

Menurut laporan dari EAT-Lancet Commission (2019), produksi pangan dunia secara langsung ikut berkontribusi dalam membesarnya ancaman terhadap daya tahan iklim, serta dianggap sebagai salah satu faktor utama kerusakan
lingkungan saat ini. Laporan tersebut menunjukkan kelemahan dan kecacatan sistem pangan industri monokultur yang mengurangi kesuburan tanah dan miskin akan kergaman jenis dan varietas. Misalnya, dari 75% dari pangan yang diproduksi hanya berasal dari 12 spesies tumbuhan dan 5 spesies hewan. Minimnya keragaman varietas dan sumber pangan tersebut
bermuara pada hilangnya daya lenting (resilience) ekosistem pertanian yang di masa lalu merupakan salah pondasi penting sistem produksi pangan dan praktik pertanian sekala kecil. Kita juga kehilangan kualitas nutrisi dalam pangan dan berbagai manfaat untuk kesehatan manusia. Sistim budidaya dan terbatasnya jenis pangan yang tersedia hari ini juga ikut mempercepat
hilangnya pengetahuan-pengetahuan lokal dan kearifan tradisional terkait pangan yang terhubung erat dengan praktik pertanian dan pola konsumsi Masyarakat Adat.

Inilah beragam faktor dan kondisi yang ikut mendorong lahirnya kampanye publik, inisiatif dan gerakan bersama para produsen pangan, koki , masyarakat yang peduli seperti pertanian perkotaan, pertanian organik, pasar lokal dengan tujuan mempromosikan dan mengedukasi konsumen agar memilih makanan yang tidak hanya cukupdan seimbang secara nutrisi, sehat dan bersih, tapi juga didasarkan pada rantai pasok dan perdagangan yang adil. Hal ini penting untuk menjamin hak semua orang atas pangan yang baik, bersih dan adil menjaga ketahanan dan kedaulatan pangan.

Slow Food adalah salah satu gerakan global yang sudah berkembang di 160 negara didirikan pada tahun 1989 diprakasai oleh Carlo Petrini dengan sekitar 100.000 anggota yang supporter ; didirikan mencegah hilangnya budaya dan tradisi makanan lokal, menangkal munculnya gaya hidup instan, dan menahan laju kurangnya minat orang pada makanan yang mereka makan,
dari mana asalnya dan bagaimana pilihan makanan kita memengaruhi dunia sekitar kita. Tiga prinsip filosofi Slow Food adalah “Good” (Baik), “Clean” (Bersih) “Fair” (Adil).

BAIK: makanan musiman yang segar dan lezat yang memuaskan indera dan merupakan bagian dari budaya lokal kami;
BERSIH: produksi dan konsumsi pangan yang tidak membahayakan lingkungan, kesejahteraan hewan atau kesehatan kita;
ADIL : harga yang terjangkau bagi konsumen dan kondisi yang adil dan pembayaran untuk produsen skala kecil. Slow Food juga apresiasi terhadap produk lokal, varietas2 yang unik dan khas yang hanya ada di suatu tempat (Indikasi Geografis – IG ); disertai juga produk yang mencerminkan tradisi budaya dan sosial setempat.

SEJARAH SLOW FOOD DI INDONESIA:

Sejarah gerakan Slow Food di Indonesia dimulai pada 2008 dengan anggota yang berjumlah sekitar 30 orang yang memulai memperkenalkan dengan aktifitas di Lippo Karawaci.

Slow Food di Indonesia berkembang dengan terbentuknya jaringan anggota :

Convivium ( local chapter) yaitu Slow Food Convivium Bali, Slow Food Convivium Jakarta- Urban area , Slow Food Convivium Jogyakarta

Presidia (Proyek untuk menemukan kembali, membuat katalog, mendeskripsikan dan mempublikasikan sumber pangan dan makanan yang yang beresiko punah agar tetap dilindungi dan tidak terlupakan atau hilang) yaitu Presidia Madu Cingagoler di Banten, Presidia Tengkawang di Kalimantan Barat dan Presidia Pisang di Jogyakarta yang dibentuk pada 2016.

Slow Food Community (sekelompok orang yang mendukung dan berkomitmen pada nilai-nilai gerakan Slow Food internasional) yaitu Slow Food Community Parara of Archipelago Jakarta dan Slow Food Community Kapuas Hulu serta yang akan datang Slow Food Community Krayan.

Slow Food di Indonesia juga sudah mencatatkan 56 Ark of Taste yang merupakan bagian dari katalog online sumber pangan dan makanan tradisional yang berisiko punah di dunia modern.

Dimasa pandemi ini beberapa kegiatan dilakukan secara on-line. Terra Madre Indonesia 2020 mengkoordinir serial webinar bulanan , dimulai bulan Oktober 2020 sampai dengan Maret 2021 yaitu produk Madu, produk Gula Merah, Sagu, Serelia, Garam dan Buah Tropis.

Melalui inisiatif-inisiatif ada upaya untuk mengadvokasikan kebijakan-kebijakan terkait pangan dan aksi-aksi bersifat rehabilitatif untuk menggalakkan konsep dan pola praktek pertanian yang berkelanjutan dan berbasis keanekaragaman pangan lokal, menjaga dan menanam benih lokal dan melindungi cultivar liar dari ancaman kepunahan,, serta mendorong aksi
yang lebih sistematis dari para pelaku pasar untuk mendorong perubahan pola konsumsi dan konsumsi yang lebih etis menggeliatkan ekonomi lokal sembari tetap menjaga pondasi dan identitas dari budaya pangan setempat dan supaya produksi dan konsumsi pangan berkelanjutan, memperhatikan pilar sosial-budaya, ekonomi dan lingkungan dan juga memperhatikan dan mempertahankan rasa yang enak karena kita kita tetap bicara makanan yang harus juga diterima lidah masyarakat kita. Ini semua merupakan upaya untuk memastikan terpenuhinya hak atas pangan yang baik, bersih dan adil dari hulu hingga hilir. (Icho)

Leave a Reply