Habitat For Humanity Indonesia Bersama American Red Cross, Palang Merah Indonesia, Pokja BaNTu, dan Kementerian PUPR Menggelar Webinar Bertajuk “Retrofitting Berbasis Masyarakat, Upaya Mitigasi Pengurangan Risiko Bencana”

by -234 views

Jakarta, 9 Februari 2021″citayambersatu” – Sebagai negara cincin api yang dikepung oleh lempeng-lempeng tektonik Indo-Australia dan Pasifik yang menumbuk ke lempeng Eurasia, Indonesia rentan mengalami bencana gempa bumi, tsunami, dan berbagai dampak lain yang mengikutinya. Setidaknya dalam 2 tahun terakhir aktivitas gempa melompat secara signifikan, yakni rata-rata sekitar 11.920 kali di tahun 2018 (Sumber: Katalog BMKG, bmkg.go.id).

Saat gempa terjadi, dampak utama yang sangat tersorot mata adalah banyaknya rumah dan bangunan masyarakat yang rusak parah. Seperti gempa Sulawesi Barat yang terjadi baru-baru ini, setidaknya ada 90.000 lebih warga harus mengungsi lantaran rumah mereka hancur (Sumber: BNPB, 24 Januari 2021), hal ini terjadi karena pada umumnya rumah masyarakat belum memenuhi standar struktur bangunan aman bencana. Tidak jarang banyaknya rumah yang runtuh berakibat pada sempitnya jalur evakuasi sehingga peluang untuk menyelamatkan korban lebih sedikit.

Kewaspadaan yang tinggi dituntut dari masyarakat. Retrofitting menjadi salah satu solusi mitigasi mengurangi risiko bencana yang perlu dilakukan dengan memperkuat struktur dan bangunan rumah. Menyadari Retrofitting harus disosialisasikan dan diimplementasikan lebih nyata oleh masyarakat luas, Habitat for Humanity Indonesia bekerja sama dengan American Red Cross, Palang Merah Indonesia (PMI), Pokja BaNTu, dan Kementerian PUPR menggelar webinar bertajuk “Program Retrofitting Berbasis Masyarakat Sebagai Upaya Mitigasi Pengurangan Risiko Bencana Melalui Dukungan Bantuan Nontunai”.

Andreas Hapsoro, Strategic Alliance Director Habitat for Humanity Indonesia mengungkapkan “Habitat sebagai organisasi kemanusiaan yang fokus pada penyediaan hunian layak selalu mengupayakan penyediaan rumah yang tidak hanya bersih dan nyaman tetapi juga aman terhadap bencana khususnya gempa. Sebagai organisasi kemanusiaan yang kompeten pembangunan rumah layak huni, Habitat memiliki semangat memberikan edukasi dan mendorong masyarakat mengaplikasikan rumah aman, nyaman, dan mengikuti kaidah konstruksi yang berlaku. Dengan prinsip putting people at the center atau menempatkan pemilik rumah  sebagai aktor utama, pendekatan berbasis masyarakat akan menjamin keberlanjutan dan dapat diduplikasi untuk memberikan pengaruh positif kepada lingkungannya sehingga ketika bencana datang kerusakan pada rumah yang dibangun bersama dengan masyarakat menjadi minimum atau bila terjadi gempa yang sangat besar setidaknya penghuni rumah memilki waktu untuk menyelamatkan diri dan tidak menimbulkan korban jiwa”.

Arwin Soelaksono, Consultant for Shelter Retrofitting and Earthquake Readiness American Red Cross menyampaikan dalam paparannya “Kita berpacu dengan waktu. Tinggal di daerah rawan gempa namun kebanyakan masyarakatnya tinggal di rumah yang rentan bencana. Retrofitting atau penguatan rumah aman gempa yang perlu segera dilakukan. Untuk mencapai keamanan dan kecepatan, masyarakat harus dimampukan melakukan retrofitting secara mandiri dengan benar. Pemerintah, swasta dan lembaga kemanusiaan perlu

berkolaborasi untuk meningkatkan kemampuan masyarakat yang ada batasnya. Bila hal ini bisa dilakukan dengan konsisten, kita semua dapat mengurangi risiko kerentanan dan menyelamatkan jiwa dari keruntuhan rumah dan bangunan akibat gempa”.  

Ir. Dian Irawati, MT, Direktur Bina Teknik Pemukiman dan Perumahan mengungkapkan “Bangunan gedung termasuk rumah tinggal harus memenuhi salah satu aspek keselamatan berupa ketahanan terhadap guncangan gempa bumi dengan skala tertentu. Dalam banyak kasus, kerusakan berat bangunan rumah umumnya terjadi karena tidak dipenuhinya standar-standar seperti pondasi, sistem struktur kolom, balok, dinding, struktur atap, maupun standar material yang digunakan. PUPR sendiri telah mengeluarkan pedoman teknik perkuatan untuk bangunan sederhana dengan memperhatikan prinsip-prinsip perkuatan yaitu efisiensi dan efektifitas yang terdiri dari kemudahan pelaksanaan oleh tukang yang tidak memerlukan keahlian khusus, kemudahan mendapatkan alat dan bahan agar biaya optimal, dan pelaksanaan yang benar-benar sesuai dengan target yang ingin dicapai. Masyarakat umum dapat melakukannya mulai dari perkuatan dengan dinding pengisi, dinding sayap, ikatan silang dan dengan sokongan. Untuk meningkatkan daktilitas (kemampuan menahan beban gempa), masyarakat dapat melakukannya dengan cara: membungkus dengan plat baja, besi strip dan plat baja, jaringan tulang, dan dengan sengkang yang rapat”.

Sebagai modalitas yang sangat aplikatif untuk menjawab kebutuhan semua sektor termasuk sektor perumahan khususnya dalam retrofitting, BaNTu menawarkan upaya membangun ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana dengan memaksimalkan perkembangan teknologi dalam mekanisme distribusi. Susilo Budhi Sulistyo, Tim Advokasi Pokja BaNTu memaparkan “Penggunaan BaNTu sebagai salah satu modalitas distribusi bantuan semakin berkembang pesat terutama sejak respons bencana gempa bumi, tsunami dan likuifaksi di Sulawesi Tengah tahun 2018. BaNTu mengedepankan penghargaan atas martabat karena control atau kendali memutuskan di tangan penerima manfaat. BaNTu juga memberikan multiplier dalam memberdayakan pasar lokal karena penerima manfaat akan mengakses pasar di dekat lokasi tempat tingalnya. BaNTu juga memangkas birokrasi dengan mengutamakan anti korupsi karena semua tercatat dan terlaporkan secara transparan dan akuntabel”.

Setiap materi dan edukasi yang disampaikan melalui webinar diharapkan dapat membantu masyarakat awam memahami retrofitting dan mengaplikasikannya pada rumah maupun bangunan untuk meminimalisir kerusakan, kerugian, dan berkesempatan menyelamatkan lebih banyak jiwa saat bencana maupaun gempa terjadi. (Sarah)

Leave a Reply