Sarinah Jakarta Content Week 2021 “On Literacy: Turning the Wheel of Wealth” Tantangan Dunia Literasi Di Mata Erick Thohir dan Rintik Sedu

by -137 Views

citayambersatu.com – Dunia literasi selalu menarik untuk dikupas, beragam isu yang menyertainya pun tak luput menjadi bahasan hangat di masyarakat, dan seringkali dijadikan tolak ukur perkembangan bangsa kita. Perkembangan dunia literasi di tengah digitalisasi menjadi ranah yang menarik untuk dibahas. Untuk itulah dalam rangka Road to Sarinah, maka Sarinah Jakarta Content Week 2021 (Sarinah Jaktent) yang berlangsung luring serta bertempat di Gedung Sarinah pada 1-12 Desember 2021, yang diinisiasi oleh Yayasan 17000 Pulau Imaji (YTPI) dan Frankfurt Book Fair serta mendapat dukungan dana oleh PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT. Sarinah (Persero) dan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, membuat sesi khusus yang membahas mengenai isu ini dan mempertemukan penulis muda dari generasi digital native dengan Menteri BUMN, dua generasi dan sudut pandang berbeda pada Rabu, 8 Desember 2021 pukul 16.00-17.30 WIB, bertempat di Lt. 3 Gedung Sarinah, Jl. M.H. Thamrin, Jakarta Pusat.

Dengan tajuk “On Literacy: Turning the Wheel of Wealth”, acara yang merupakan hasil kolaborasi dengan JCCN (Jakarta Creative City Forum) dan ICCN (Indonesia Creative City Network) ini membahas beragam tantangan dan kesempatan yang tersaji di dunia literasi kita. Mulai dari elemen produksi, medium, distribusi, sampai minat baca masyarakat. Di saat yang bersamaan, Jakarta sebagai ibukota negara Indonesia baru saja dinobatkan sebagai salah satu UNESCO City of Literature dan masuk ke dalam jaringan kota kreatif dunia. Sesi ini menghadirkan narasumber:

1. Erick Thohir (Menteri BUMN)
2. Rintik Sedu (Penulis/ Kreator Konten)
Moderator: Laura Bangun Prinsloo (Focal Point di Jakarta UNESCO City of Literature dan Ketua YTPI)

Dalam diskusi ini, dibahas tentang banyaknya elemen yang membangun dunia literasi Indonesia dan sampai saat ini beberapa di antaranya masih belum bekerja secara maksimal. Oleh karena itu, dibutuhkan semacam role model atau prototype yang mampu menginspirasi, menggerakkan, atau bahkan mengorganisir para stakeholder literasi dan masyarakat luas. Erick Thohir, selaku menteri BUMN yang membawahi 171 badan usaha negara, adalah salah satu  stakeholder yang punya daya besar untuk menggerakkan dunia literasi di Indonesia. Salah satu contohnya, salah satu BUMN pernah mampu membuat program literasi yang masif dan berdampak luar biasa dalam membuka akses literasi bagi masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia. “Ekosistem harus dibangun dan untuk itu infrastruktur sangat penting. Namun yang paling penting adalah kreatifnya, yaitu manusia-nya. Di era digitalisasi ini, multiplatform storytelling harus dikembangkan. Karena itulah kami akan membuat multiplatform storytelling dengan mendorong BUMN sebagai lokomotif besar. Untuk itu saya minta para pimpinan BUMN untuk jangan hanya melihat bisnisnya saja tapi ekosistem yang lebih besar dan berkaitan. Terutama menyediakan infrastruktur untuk diisi generasi muda sebagai kreator dan bisa melibatkan komunitas,” ujar Erick Thohir saat memaparkan pandangannya di atas panggung Sarinah Jaktent 2021.

Berdampingan dengan Erick Thohir, hadir Nadhifa Allya Tsana atau kerap kali dikenal dengan Rintik Sedu, penulis muda inspiratif yang mampu mengajak masyarakat untuk mencintai buku dan pengetahuan. Melalui berbagai platform digital yang diciptakan Rintik Sedu, mulai dari blog, Twitter, Wattpad, bahkan podcast, ia memberi pengaruh besar bagi generasi muda hari ini. “Literasi saat ini lebih dekat dengan kita dibanding dulu. Dulu saya baca buku karena dikenalkan oleh ibu saya, menghirup bau kertasnya, dan membicarakan buku-buku itu dengan ibu. Sekarang, saya ngomongin buku bisa lewat DM dengan sahabat. Di sinilah setiap masa itu berbeda, di mana literasi tentu ada perkembangannya, tidak ada yang sama. Literasi sekarang lebih banyak warnanya, bentuk adaptasinya, bentuk formatnya, kita tidak harus ke toko buku, perpustakaan, di mana anak muda membaca melalui handphone. Literasi lebih berkembang di mana kita bisa baca di mana pun dan kapan pun,” kata Rintik Sedu yang kehadirannya di acara ini atas dukungan penuh dari Gramedia Pustaka Utama.

“Kehadiran Erick Thohir dan Rintik Sedu di diskusi ini diharapkan bisa menjawab tantangan-tantangan dalam dunia literasi dan pemanfaatan yang tepat terhadap dunia digital. Anak muda Indonesia harus benar-benar bangkit dan melakukan perubahan dengan aktivasi dunia digital yang mempermudah. Dukungan dari stakeholder dan pemerintah pun harus diupayakan dengan semaksimal mungkin, untuk tercapainya pemerataan dan pemberdayaan literasi yang lebih luas lagi,” ujar Laura Bangun Prinsloo, Ketua Harian Jakarta Kota Buku, sebuah komite yang dibentuk Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang menjalankan program-program literasi dan salah satunya berhasil mengantarkan Indonesia meraih UNESCO City of Literature 2021.

“Diskusi ini menjadi bagian dari dukungan Sarinah sebagai community mall, untuk menjadi ruang kreasi, pertemuan, dan jejaring para insan kreatif, terutama di bidang literasi. Kami berharap, teman-teman di industri kreatif dan konten kreator seperti Rintik Sedu, bisa memanfaatkan Sarinah untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak terutama dengan pemerintah
dalam hal ini BUMN,” ujar Fetty Kwartati, Direktur Utama PT Sarinah (Persero). (Icho)

Leave a Reply

Your email address will not be published.