Pengoptimalan Resiliensi dan Ketahanan Tenaga Kesehatan Dalam Memasuki Gelombang Ketiga Covid-19

by -13 Views

Jakarta, 05 Februari 2022″citayambersatu.com” – Setelah Kemenkes resmi menyatakan Indonesia masuk gelombang ketiga Pandemi Covid-19 dengan varian Omicron, angka Bed Occupancy Rate (BOR) di rumah sakit bertambah hingga 60% dan ICU sebanyak 30%. Potensi risiko tenaga kesehatan kewalahan juga meningkat. Penerapan prokes kesehatan menjadi salah satu langkah agar nakes tidak kewalahan menangani kasus baru.

Studi literatur terbaru yang dipublikasikan di The Indonesian Journal of Community and Occupational Medicine (IJCOM) menunjukkan bahwa potensi risiko kesehatan dan burnout pada tenaga kesehatan bisa menjadi ancaman.

Menurut Peneliti Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK bersama dr. Muchtar yang melakukan studi literatur pada akhir 2021 menyebutkan jika beberapa studi kasus dan penelitian berbasis klinis fasilitas kesehatan di beberapa negara pada saat puncak pandemi menunjukkan pemantapan ketahanan nakes dapat membantu mempercepat suatu negara melewati puncak pandemi.

“Aspek yang tidak boleh terlewatkan pandemi saat ini yaitu dukungan psikologis pada ketahanan nakes. Selain tentu saja penting bagi manajemen melakukan riset hazard analysis dan intervensi pendukung lainnya” ujar Dr Ray Wagiu Basrowi selaku Founder dan Chairman Health Collaborative Center.

Rekomendasi strategi penting dari studi literatur ini adalah dengan terus mengoptimalkan ketahanan tenaga kesehatan dengan melakukan pembagian tugas yang efisien untuk mengurangi beban kerja. Terutama mengutamakan prioritas pada kebutuhan safety.

“Aspek psikososial di pusat kesehatan bisa dilakukan diantaranya dengan melakukan intervensi psikologis oleh tenaga terlatih atau konselor mental health. Langkah ini terbukti efektif dilakukan oleh sejumlah negara. Selain itu, pemerintah dan manajemen juga harus memastikan dukungan health and safety yang memadai selama pandemi terutama memasuki gelombang ketiga ini,” tambah praktisi kedokteran komunitas yang sering memberi edukasi melalui akun Instagram @ray.w.basrowi.

Untuk mendukung berjalannya rencana tersebut, Ray menjelaskan bahwa telemedicine jadi pilihan untuk kasus tidak gawat/kritis/mendesak. Menurutnya, telemedicine bisa menjadi media untuk monitor dan screening awal agar kondisi tidak memburuk sebelum dirujuk ke rumah sakit, karena bila kondisi sudah kritis beban rumah sakit juga akan bertambah.

Manajemen Rumah Sakit juga wajib menyegarkan hazard assessment dan pandemic management system, yang artinya melakukan analisis kembali potensi-potensi risiko pada nakes bisa terinfeksi virus selama di faskes atau pada saat menangani pasien.

“Mitigasi bahaya psikososial di faskes (terutama rumah sakit) yang paling penting adalah jaminan keamanan bekerja bagi nakes selama pandemi. Semua alat perlindungan diri, intervensi hidrasi dan nutrisi harus dipenuhi agar nakes fokus pada penanganan medis tanpa khawatir tertular dari pasien,” ungkap Ray.

Perlunya melakukan re-assessment (penilaian kembali skala prioritas kerja, jadwal dan potensi kesenjangan dukungan fasilitas) serta tidak boleh melupakan mitigasi bahaya psikososial baik di tingkat individu maupun organisasi.

Ancaman terberat bagi tenaga kesehatan yang kewalahan dalam menangani pasien adalah adalah burnout syndrome. Nakes yang mengalami burnout syndrome derajat sedang dapat mempengaruhi produktivitas dan kinerja nya sehingga bisa berbahaya buat dirinya dan pasien juga.

“Perlu diperhatikan aspek work shift balance sehingga nakes tidak bekerja melebihi waktu normal. Memberikan dukungan kesehatan mental bagi nakes juga sangat diperlukan. Dengan adanya pemberian nutrisi dan hidrasi yang baik dan berkesinambungan dapat meningkatkan ketahanan nakes selama puncak pandemi,” tutup Ray yang merupakan staf pengajar Program Magister Kedokteran Kerja FKUI. (Icho)

Leave a Reply